Berdiri dalam gelap

Kegelapan merupakan saat di mana tidak ada cahaya atau terang. Kegelapan tidak selalu negatif. Negatif dalam artian hal buruk terjadi. Apa yang sering dilakukan oleh orang saat berada dalam kegelapan? Yes, that's right. Takut! Ya, tentunya ada beberapa respon yang dilakukan orang saat orang mengalami ketakutan, misalnya berteriak histeris, panggil seseorang untuk menemani, dll. Hal tersebut sering dan bahkan bisa dikatakan selalu dilakukan oleh orang yang mengalami ketakutan. Setiap reaksi yang dilakukan merupakan ciri tindakan refleks yang ditimbulkan oleh rasa takut.

Berdiri dalam gelap adalah hal yang tidak semua orang dapat lakukan. Kenapa demikian? Karena kebanyakan dari kita, telah diindoktrinasi bahwa gelap selalu berhubungan dengan hal negatif yang mungkin bisa terjadi. Dalam buku Henk Venema menjelaskan kebiasaan suku Korowai mengadakan pesta ulat sagu agar supaya mereka terhindar dari pada malapetaka seperti banjir, kematian, dll.

Orang-orang seringkali berusaha untuk menjauhkan diri sebisa mungkin untuk terhindar daripada malapetaka atau hal negatif yang mungkin bisa terjadi. Siapa sih yang ingin mengalami hal negatif? Yup betul sekali tentunya tidak ada yang ingin. Tapi siapa yang mampu untuk menghindar dari pada malapetaka? Kalau tidak ada yang mampu menghindari hal negatif (Hal ini saya sebut "kegelapan"), maka kita tidak punya pilihan lain untuk tidak berdiri di dalam kegelapan serta berusaha untuk melakukan sesuatu agar supaya dapat keluar dari pada kegelapn itu. Untuk hal ini saya ingin mengutip judul buku dari R.A. Kartini, "Habis Gelap Terbitlah Terang". Selalu ada terang di ujung dari pada terowongan.

Orang ateis sering mengajukan pertanyaan jika Allah yang transenden dan imanen ada, maka kenapa masih ada bencana dan bahkan kejahatan yang terjadi? Di manakah Teodise Allah? Apakah Allah merupakan Allah yang kejam jika Dia benar-benar eksis sehingga Ia mengijinkan berbagai bencana dan kejahatan terjadi? Pertanyaan-pertanyaan klasik ateis seperti ini membuat kita sering merasakan hal yang sama. Namun jika kita percaya bahwa Allah yang transenden hadir di tengah-tengah kita (Imanen) maka setiap hal yang terjadi dalam hidup kita baik positif maupun negatif (baik ataupun jahat), hal positif maupun negative yang diberikan oleh alam dalam kehidupan manusia  seharusnya iman kita terus terpaut pada Tuhan. Paulus pernah mengatakan kepada jemaat di Roma bahwa "And we know that all things work together for good to them that love God, to them who called according to His purpose."(Roma 8:28). Segala sesuatu bekerja bersama-sama entah itu hal baik maupun hal buruk untuk kebaikan kita bersama. Oleh karena itu, hal baik maupun hal buruk yang dapat menimpa kita, mendatangkan kebaikan bagi kita semua.

Allah adalah adil dan kasih. Kedua hal ini tidak bisa terpisahkan. Karena keadilan-Nya manusia berdosa dan harus dihukum dan oleh karena kasih-Nya, Ia mengirimkan Yesus sebagai korban penebusan untuk menebus dosa manusia. Nah, oleh karena itu baik dan buruk adalah dua hal yang tidak bisa kita hindari. Pertanyaannya adalah ketika kita menghadapi hal buruk apakah kita berani berdiri dan terus berjuang keluar dari pada kegelapan atau kita malah keluar dan menyerah. Terakhir sekali yang ingin saya katakan bahwa Life must go on no matter what!

Thanks So Much! Cayyoo